Cari Blog Ini

Senin, 23 Januari 2012

Jenis - Jenis Bunyi Bahasa


Bunyi – bunyi bahasa yang dihasilkan oleh alat – alat ucap, berdasarkan ktiteria tertentu dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu :

1.                  Bunyi Vokal, Konsonan dan Semi Vokal
Bunyi vokal, Konsonan dan Semi Vokal dibedakan berdasarkan tempat dan cara artikulasinya, ( Abdul Chaer, 2009 : 32 ). Vokal adalah bunyi bahasa yang dihasilakan dengan cara, setelah arus udara keluar dari glotis (celah pita suara), lalu arus ujarannya hanya diganggu atau diubah oleh posisi lidah dan bentuk mulut. Bunyi konsonan terjadi setelah arus ujaran melewati pita suara diteruskan oleh rongga mulut dan mendapat hambatan dari artikulator aktif dan pasif.

 Sedangkan bunyi semi vokal adalah bunyi yang proses pembentukannya mula – mula secara vokal lalu diakhiri secara konsonan, bunyi ini hanya ada dua yaitu [w] dan [y].

2.                  Bunyi Oral dan Bunyi Nasal
Kedua bunyi ini dibedakan berdasarkan keluarnya arus ujaran.( Abdul Chaer, 2009 : 33 ). Bila arus ujaran ke luar melalui rongga mulut maka disebut bunyi oral. Bila keluar dari melalui rongga hidung disebut bunyi nasal.

3.                  Bunyi Bersuara dan Bunyi tak Bersuara
Kedua bunyi ini dibedakan berdasarkan ada tidaknya getaran pada pita suara sewaktu bunyi itu diproduksi. Bila pita suara turut bergetar pada proses pembunyian itu, maka disebut bunyi bersuara. Bila pita suara tidak bergetar disebut bunyi tak bersuara. ( Abdul Chaer, 2009 : 33 )

4.                  Bunyi Keras dan Bunyi Lunak
Perbedaan kedua bunyi ini berdasarkan ada tidaknya ketegangan kekuatan arus udara ketika bunyi ini diartikulasikan. Sebuah bunyi disebut keras ( fortis ) apabila terjadi karenan pernafasan yang kuat dan otot tegang. Bunyi [t], [k], dan [s]. sebaliknya sebuah bunyi disebut lunak (lenis) apabila terjadi karena pernafasan lembut dan otot kendur. Bunyi [d], [g] dan [z]. (Abdul Chaer,2009: 34)
 
5.                  Bunyi Panjang dan Bunyi Pendek
Pembedaan kedua bunyi ini didasarkan pada lama dan tidaknya bunyi itu diartikulasikan. Baik bunyi vokal maupun konsonan dapat dibagi atas bunyi pajang dan bunyi pendek. Biasanya terdapat pada bahasa arab dan latin. ( Abdul Chaer, 2009 : 34 )

6.                  Bunyi Tunggal dan Bunyi Rangkap
Pembedaan ini berdasarkan pada hadirnya sebuah bunyi yang tidak sama sebagai satu kesatuan dalam sebuah silabel ( suku kata ). Bunyi rangkap vokal disebut diftong dan bunyi tunggal vokal disebut monoftong. Bunyi rangkap konsonan disebut kluster. ( Abdul Chaer, 2009 : 34 )

7.                  Bunyi Nyaring dan tak Nyaring
Pembedaan kedua bunyi ini berdasarkan derajat kenyaringan ( sonoritas ) bunyi – bunyi itu yang ditentukan oleh besar kecilnya ruangan resonansi pada waktu bunyi itu diujarkan. Bunyi vokal pada umumnya mempunyai sonoritas yang lebih tinggi daripada bunyi konsonan. Oleh karena itu, setiap bunyi vokal menjadi puncak kenyaringan setiap silabel. ( Abdul Chaer, 2009 : 34 )
 
8.                  Bunyi Egresif dan Bunyi Ingresif
Pembedaan kedua bunyi ini berdasarkan dari mana datangnya arus udara dalam pembentukan bunyi itu. Kalau arus udara datang dari dalam ( seperti dari paru – paru ), maka bunyi itu disebut bunyi egresif, bila datangnuya dari luar disebut bunyi ingresif. ( Abdul Chaer, 2009 : 35 ).

9.                  Bunyi Segmental dan Suprasegmental
Pembedaan kedua bunyi ini berdasarkan pada, dapat tidaknya bunyi itu disegmentasikan. Bunyi yang dapat disegmentasikan , seperti semua bunyi vokal dan konsonan adalah bunyi segmental. Sedangkat bunyi atau unsur yang tidak bisa disegmentasikan yang menyertai bunyi segmental itu, seperti tekanan, nada, jeda dan durasi ( pemanjangan ) disebut bunyi atau unsur suprasegmental. ( Abdul Chaer, 2009 : 35 ).

10.              Bunyi Utama dan Bunyi Sertaan
Dalam pertuturan bunyi – bunyi bahasa itu tidak berdiri sendiri – sendiri, malainkan saling pengaruh – mempengaruhi baik dari bunyi yang ada sebelumnya maupun dari bunyi sesudahnya. Begitulah ketika sebuah bunyi diartikulasikan, maka akibat dari pengaruh bunyi berikutnya terjadi pulalah artikulasi lain yang disebut artikulasi sertaan atau artikulasi skunder.
 
 Maka, pembedaan adanya bunyi utama dan bunyi seretan ini didaserkan pada adanya proses artikulasi pertama,  artikulasi utama atau artikulasi primer dan adanya artikulasi sertaan. Bunyi – bunyi sertaan disebut juga bunyi pengiring yang muncul, antara lain, akibat adanya proses artikulasi sertaan yang disebut :
a.       Labialisasi, bunyi sertaan [w]. Contoh <Twujuan>.
b.      Palatalisasi, bunyi sertaan [y]. Contoh <Piara> - <Pyara>.
c.       Velarisasi, bunyi sertaan [x]. Contoh <Makhluk> - <Mxaxluk>.
d.      Retrofleksi, bunyi sertaan [r]. Contoh <Kertas> - <Krertas>.
e.       Glotalisasi, bunyi sertaan [?]. Contoh <Akan> - <A?kan>.
f.       Aspirasi, bunyi sertaan [h].Contoh <Peace> - <Pheace>. Dalam bahasa inggris.
Nasallisasi, bunyi sertaan [m] dan [k] . terjadi pada kosonan hambat bersuara [b], [d] dan [g] sehingga menjadi [mb], [md] dan [kg]. dan banyak lagi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar